Goleti

Kamis, 19 April 2012

ANALISIS NOVEL JARING KALAMANGGA


Ikhtisar Cerita
            Dalam novel Jaring Kalamangga karya Suparta Brata ini mengisahkan tentang seorang detektif yang bernama Handaka yang disewa oleh seseorang bernama Sanggar Padmanaba yang tinggal sekaligus bekerja di wisma Kalamangga. Wisma Kalamangga letaknya di pegunungan daerah Tretes, Pasuruan, Jawa Timur.
Yang tinggal di wisma Kalamangga itu ada beberapa orang. Yaitu, Adib Darmawan sebagai direktur NV. Kalamangga bersama istrinya Nyonya Adib Darmawan atau biasa dipanggil Pitrin. Adib Darmawan sering bepergian keluar kota untuk mengurusi bisnisnya. Dan terkadang sering mengajak rekan kerjanya ke wisma Kalamangga. Nyonya Adib Darmawan hanya dirumah saja, dikatakan bahwa dia sedang sakit jadi tidak banyak melakukan aktifitas. Selain itu penghuni dalam wisma itu ada Sanggar Padmanaba yang membantu Adib Darmawan di kantor NV. Kalamangga. Ada juga pembantu di wisma Kalamangga yaitu Mbok Gin dan juga tukang kebunnya yang bernama Ajis.
            Handaka disewa oleh Sanggar Padmanaba dengan tujuan untuk menjaga putri rekannya yang datang dari Makasar akan menginap di wisma Kalamangga untuk berlibur. Handaka disini menyamar sebagai juru ketik. Di wisma Kalamangga tidak ada yang tau kalau Handaka adalah seorang detektif, kecuali Sanggar Padmanaba yang memang menyewanya.
            Awalnya Handaka tidak terlalu curiga dengan keadaan wisma tersebut. Tapi ketika suatu malam Handaka melihat 2 orang yang sedang berkelahi di dekat garasi di wisma tersebut, Handaka mulai curiga. Apalagi keesokan harinya orang-orang dalam wisma tersebut tidak ada yang membahas kejadian semalam ataupun merasa kehilangan seseorang. Padahal salah satu dari orang yang berkelahi semalam sepertinya terluka parah, karena salah satunya menggunakan senjata yang berupa arit yang dikenal dengan nama arit pancor khas probolinggo.
Semenjak kejadian itu, setiap hari Handaka berusaha mempelajari apa-apa yang ada di wisma Kalamangga, lingkungan di sekitarnya begitu juga orang-orang yang tinggal dalam wisma tersebut. Dan semakin hari Handaka makin banyak menjumpai keanehan-keanehan yang ada dalam wisma tersebut dan juga pada orang-orang dalam wisma itu.
          Kedatangan Tinuk Gayatri, anak rekan dari  Sanggar Padmanaba yang tinggal di Makasar (yang sebenarnya Tinuk adalah anak dari Sanggar Padmanaba) membuat Kalamangga menyenangkan. Karena Tinuk yang cantik dan gampang bergaul, walaupun keadaan dalam Wisma Kalamangga begitu hampa.
            Tinuk adalah orang kedua yang membuat Handaka senang, yang pertama yaitu Mbok Gin. Karena keduanya tidak pernah menyembunyikan sesuatu dalam diri mereka. Berbeda dengan Padmanaba dan Pitrin.
            Padmanaba begitu khawatir dengan Tinuk, tetapi Tinuk tidak terlalu memperdulikannya. Apalagi setelah Tinuk berkenalan dengan Trenggana. Mereka berdua sering pergi bersama dan menikmati pemandangan di sekitar Wisma Kalamangga. Selain Tinuk dan Trenggana ada juga sepasang orang yang senang melihat pemandangan sekitar, yaitu Pitrin dan Ajiz.
            Suatu hari datanglah surat untuk Adib Darmawan. Karena penasaran sekaligus karena dirinya sebagai detektif, Handaka membuka surat itu. Surat itu berisi ancaman dari Muin Jingga. Mengetahui hal itu, Padmanaba begitu kawatir karena mengetahui masa lalu antara Adib Darmawan dan Muin Jingga.
            Semakin hari suasana dalam Wisma Kalamangga semakin “ruwet”. Peristiwa yang dialami oleh Tinuk karena diperkosa oleh Adib Darmawan sehingga membuat Padmanaba marah pada Adib Darmawan. Sehingga Padmanaba membunuh Adib Darmawan. Kecurigaan Handaka tentang siapa sebenarnya Ajiz (tukang kebun yang dipekerjakan oleh Pitrin), yang ternyata dia adalah Dokter Ajiz, orang yang sebenarnya akan menikah dengan Pitrin sebelum Pitrin dinikah paksa oleh Adib Darmawan, karena Adib Darmawan menikahi Pitrin karena hartanya.
            Ketika pembunuhan Adib Darmawan, dikira yang dibunuh adalah Dokter Ajiz. Tetapi ternyata Adib Darmawan dibunuh oleh Padmanaba, tetapi sebelumnya Adib Darmawan dikira dibunuh oleh Muin Jingga ataupun Tashudin. Tetapi karena kerjasama Handaka dan para polisi akhirnya terungkap siapa pembunuh Adib Darmawan yaitu Sanggar Padmanaba.
            Akhirnya setelah semua masalah selesai, Pitrin menikah dengan Dokter Ajiz pujaan hatinya dari masa mudanya. Dan Trenggana mematenkan diri untuk menikahi Tinuk Gayatri.

Analisis
Pada umumnya tokoh detektif dianggap sebagai seseorang yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan tokoh lain, yang dapat melakukan berbagai hal dalam cerita tersebut. Karena detektif memiliki kemampuan untuk mendapatkan pemahaman yang benar melalui bukti-bukti yang ada yang mungkin cukup rumit dan membingungkan. Dalam cerita ini dikisahkan tentang detektif swasta, yang mana detektif ini dapat diterima di masyarakat. Detektif swasta ini juga memiliki bentuk tubuh yang khas dan unik.
            Suparta Brata memiliki tokoh detektif swasta sendiri, yaitu detektif Handaka. Detektif Handaka yang seperti dalam cerita digambarkan sebagai lelaki yang memiliki perawakan kurus dan tampak langsing, tetapi pakaiannya bersih dan rapi, pandangan matanya yang tajam, dan berwibawa. Suparta Brata sepertinya sering membayangkan dirinya sebagai pribadi lebur dalam tokoh Handaka yang sebagai detektif yang cemerlang itu.
            Dalam cerita ini, selain adanya tokoh detektif ada juga tokoh penjahat sebagai lawan dari tokoh detektif tersebut. Namun tokoh penjahat disini bukanlah tokoh kriminal, tetapi tokoh biasa yang dapat diterima di masyarakat dan tidak dicurigai. Bahkan masyarakat tidak banyak mengetahui bahwa orang tersebut adalah penjahat.
            Selain itu, terjadi beberapa ketidak logisan dalam cerita ini. Hal-hal yang tidak diperkirakan sebelumnya dapat terjadi. Semuanya begitu tiba-tiba. Contohnya ketika Padmanaba membunuh Adib Darwan, hal-hal yang seharusnya terjadi justru tidak terjadi disini. Benar-benar diluar dugaan.
            Dalam cerita ini, penjahat ternyata adalah korban pembunuhan sedangkan kliennya merupakan tersangka. Adib Darmawan  merupakan penjahat, karena telah memperkosa anak kandung Sanggar Padmanaba yaitu Tinuk. Tapi disini Sanggar Padmanaba telah membunuh Adib Darmawan. Sehingga terjadi peralihan tokoh begitu cepat.
Bahasa yang digunakan Suparta Brata begitu mengesankan. Masih ada sedikit selipan bahasa asing, bukan bahasa Inggris melainkan bahasa Belanda. Biasanya penggunaan bahasa Belanda diselipkan dalam percakapan antar tokoh.
Suparta Brata bisa membuat pembacanya seolah-olah turun dalam cerita tersebut. Karena penggambaran tokohnya begitu jelas. Dan juga penggambaran latar, waktu, dan situasi yang begitu hidup.
Ketika menceritakan tentang penjahat, maka seolah-olah pembaca benar-benar menjadi penjahat. Ketika menceritakan tentang detektif maka seolah-olah pembaca benar-benar menjadi detektif. Begitu juga ketika berada dalam suatu lokasi yang digambarkan. Misalnya pengambaran tentang wisma Kalamangga yang begitu megah dan kuno. Pembaca merasa seperti ada dalam wisma Kalamangga tersebut.

Lampiran Cerita
Judul Buku                 : Jaring Kalamangga (Novel Seri Detektip Handaka)
Pengarang                  : Suparto Brata
Penerbit                     : Narasi, Yogyakarta
Cetakan                      : 1
Tahun                         : 2007
Halaman                     : 268 halaman
Biografi Pengarang   :
            Suparto Brata namanya sudah tercatat di buku Five Thousand Personalities of The World 1998 terbitan The American Biographical Institute, Raleight, North Carolina 27622 USA.
            Tahun 2007 dipilih menjadi salah satu dari tiga sastrawan Indonesia yang mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional Indonesia, dan dipilih menerima hadiah The S.E.A. Write Awards dari Kerajaan Thailand.

LAPORAN DIALEK DAERAH BREBES


Karakteristik bahasa Jawa Brebes dapat diamati dalam bidang fonologi, morfologi, maupun dalam bidang leksikon yang merupakan ciri khas bahasa tersebut. Hal ini disebabkan oleh keadaan geografis wilayah kabupaten Brebes yang berbatasan langsung dengan daerah-daerah lain yang menggunakan dialek berbeda. Daerah-daerah tersebut adalah sebelah selatan berbatasan dengan bahasa Jawa dialek Banyumasan, sebelah timur berbatasan Kabupaten/ Kota Tegal yang menggunakan bahasa Jawa dialek Tegalan, sebelah barat berbatasan dengan eks karesidenan Cirebon, sedangkan sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Disamping itu wilayah pemakaiannya berbatasan langsung dengan daerah-daerah yang berbatasan dengan bahasa Sunda yaitu di daerah kabupaten Brebes bagian selatan. Hal inilah yang menyebabkan bahasa Sunda memengaruhi bahasa Jawa Brebes terutama dalam bidang leksikon.
Bahasa Jawa Brebes banyak memyimpan ciri-ciri yang mirip dengan atau sama dengan bahasa Jawa Kuna yaitu dengan masih memelihara huruf akhir konsonan *-b, *-d, dan *-g misalnya tengkureb(tengkurap), lemud(nyamuk) dan wareg (kenyang). Untuk *-k misalnya pundak (pundak) dan jentik (jari), akhiran *-ek misalnya cecek (cicak). Ciri yang lain dalam hal suku kata, bahasa Jawa Brebes masih memelihara kata-kata yang bersuku kata tiga, seperti weringin (pohon beringin), dan kemiri (kemiri).
Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Brebes banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi), di wilayah Brebes orang makan 'sega'. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena’, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.
Untuk lebih jelas, mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini:
  • padha, (sama) dalam dialek Brebes tetap diucapkan 'pada', seperti pengucapan bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan podho.
  • saka, (dari) dalam dialek Brebes diucapkan 'saka', tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan soko.
Tabel 1 (perbedaan pengucapan)                               
Dialek Brebes
Bahasa Jawa Standar
padha
podho
saka
soko
sega
sego
apa
opo
tuwa
tuwo
Tabel 2 (kesamaan ucapan pada kata dasar ditambah akhiran ne)
Kata Dasar
Dialek Brebes
Bahasa Jawa Standar
sega+ne
segane
segane, bukan segone
gatutkaca+ne
gatutkacane
gatutkacane, bukan gatutkocone
rupa+ne
rupane
rupane, bukan rupone