Ikhtisar Cerita
Dalam novel
Jaring Kalamangga karya Suparta Brata ini mengisahkan tentang seorang detektif
yang bernama Handaka yang disewa oleh seseorang bernama Sanggar Padmanaba yang
tinggal sekaligus bekerja di wisma Kalamangga. Wisma Kalamangga letaknya di
pegunungan daerah Tretes, Pasuruan, Jawa Timur.
Yang tinggal di wisma Kalamangga itu ada
beberapa orang. Yaitu, Adib Darmawan sebagai direktur NV. Kalamangga bersama
istrinya Nyonya Adib Darmawan atau biasa dipanggil Pitrin. Adib Darmawan sering
bepergian keluar kota untuk mengurusi bisnisnya. Dan terkadang sering mengajak
rekan kerjanya ke wisma Kalamangga. Nyonya Adib Darmawan hanya dirumah saja,
dikatakan bahwa dia sedang sakit jadi tidak banyak melakukan aktifitas. Selain
itu penghuni dalam wisma itu ada Sanggar Padmanaba yang membantu Adib Darmawan
di kantor NV. Kalamangga. Ada juga pembantu di wisma Kalamangga yaitu Mbok Gin
dan juga tukang kebunnya yang bernama Ajis.
Handaka
disewa oleh Sanggar Padmanaba dengan tujuan untuk menjaga putri rekannya yang
datang dari Makasar akan menginap di wisma Kalamangga untuk berlibur. Handaka
disini menyamar sebagai juru ketik. Di wisma Kalamangga tidak ada yang tau
kalau Handaka adalah seorang detektif, kecuali Sanggar Padmanaba yang memang
menyewanya.
Awalnya
Handaka tidak terlalu curiga dengan keadaan wisma tersebut. Tapi ketika suatu
malam Handaka melihat 2 orang yang sedang berkelahi di dekat garasi di wisma
tersebut, Handaka mulai curiga. Apalagi keesokan harinya orang-orang dalam
wisma tersebut tidak ada yang membahas kejadian semalam ataupun merasa
kehilangan seseorang. Padahal salah satu dari orang yang berkelahi semalam
sepertinya terluka parah, karena salah satunya menggunakan senjata yang berupa
arit yang dikenal dengan nama arit pancor khas probolinggo.
Semenjak kejadian itu, setiap hari Handaka
berusaha mempelajari apa-apa yang ada di wisma Kalamangga, lingkungan di
sekitarnya begitu juga orang-orang yang tinggal dalam wisma tersebut. Dan
semakin hari Handaka makin banyak menjumpai keanehan-keanehan yang ada dalam
wisma tersebut dan juga pada orang-orang dalam wisma itu.
Kedatangan
Tinuk Gayatri, anak rekan dari Sanggar
Padmanaba yang tinggal di Makasar (yang sebenarnya Tinuk adalah anak dari
Sanggar Padmanaba) membuat Kalamangga menyenangkan. Karena Tinuk yang cantik
dan gampang bergaul, walaupun keadaan dalam Wisma Kalamangga begitu hampa.
Tinuk adalah orang kedua yang
membuat Handaka senang, yang pertama yaitu Mbok Gin. Karena keduanya tidak
pernah menyembunyikan sesuatu dalam diri mereka. Berbeda dengan Padmanaba dan
Pitrin.
Padmanaba begitu khawatir dengan
Tinuk, tetapi Tinuk tidak terlalu memperdulikannya. Apalagi setelah Tinuk
berkenalan dengan Trenggana. Mereka berdua sering pergi bersama dan menikmati pemandangan
di sekitar Wisma Kalamangga. Selain Tinuk dan Trenggana ada juga sepasang orang
yang senang melihat pemandangan sekitar, yaitu Pitrin dan Ajiz.
Suatu hari datanglah surat untuk
Adib Darmawan. Karena penasaran sekaligus karena dirinya sebagai detektif,
Handaka membuka surat itu. Surat itu berisi ancaman dari Muin Jingga.
Mengetahui hal itu, Padmanaba begitu kawatir karena mengetahui masa lalu antara
Adib Darmawan dan Muin Jingga.
Semakin hari suasana dalam Wisma
Kalamangga semakin “ruwet”. Peristiwa yang dialami oleh Tinuk karena diperkosa
oleh Adib Darmawan sehingga membuat Padmanaba marah pada Adib Darmawan.
Sehingga Padmanaba membunuh Adib Darmawan. Kecurigaan Handaka tentang siapa
sebenarnya Ajiz (tukang kebun yang dipekerjakan oleh Pitrin), yang ternyata dia
adalah Dokter Ajiz, orang yang sebenarnya akan menikah dengan Pitrin sebelum
Pitrin dinikah paksa oleh Adib Darmawan, karena Adib Darmawan menikahi Pitrin
karena hartanya.
Ketika pembunuhan Adib Darmawan,
dikira yang dibunuh adalah Dokter Ajiz. Tetapi ternyata Adib Darmawan dibunuh
oleh Padmanaba, tetapi sebelumnya Adib Darmawan dikira dibunuh oleh Muin Jingga
ataupun Tashudin. Tetapi karena kerjasama Handaka dan para polisi akhirnya
terungkap siapa pembunuh Adib Darmawan yaitu Sanggar Padmanaba.
Akhirnya setelah semua masalah
selesai, Pitrin menikah dengan Dokter Ajiz pujaan hatinya dari masa mudanya.
Dan Trenggana mematenkan diri untuk menikahi Tinuk Gayatri.
Analisis
Pada umumnya tokoh
detektif dianggap sebagai seseorang yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan
tokoh lain, yang dapat melakukan berbagai hal dalam cerita tersebut. Karena
detektif memiliki kemampuan untuk mendapatkan pemahaman yang benar melalui
bukti-bukti yang ada yang mungkin cukup rumit dan membingungkan. Dalam cerita
ini dikisahkan tentang detektif swasta, yang mana detektif ini dapat diterima
di masyarakat. Detektif swasta ini juga memiliki bentuk tubuh yang khas dan
unik.
Suparta
Brata memiliki tokoh detektif swasta sendiri, yaitu detektif Handaka. Detektif
Handaka yang seperti dalam cerita digambarkan sebagai lelaki yang memiliki
perawakan kurus dan tampak langsing, tetapi pakaiannya bersih dan rapi,
pandangan matanya yang tajam, dan berwibawa. Suparta Brata sepertinya sering
membayangkan dirinya sebagai pribadi lebur dalam tokoh Handaka yang sebagai
detektif yang cemerlang itu.
Dalam
cerita ini, selain adanya tokoh detektif ada juga tokoh penjahat sebagai lawan
dari tokoh detektif tersebut. Namun tokoh penjahat disini bukanlah tokoh
kriminal, tetapi tokoh biasa yang dapat diterima di masyarakat dan tidak
dicurigai. Bahkan masyarakat tidak banyak mengetahui bahwa orang tersebut
adalah penjahat.
Selain
itu, terjadi beberapa ketidak logisan dalam cerita ini. Hal-hal yang tidak
diperkirakan sebelumnya dapat terjadi. Semuanya begitu tiba-tiba. Contohnya
ketika Padmanaba membunuh Adib Darwan, hal-hal yang seharusnya terjadi justru
tidak terjadi disini. Benar-benar diluar dugaan.
Dalam
cerita ini, penjahat ternyata adalah korban pembunuhan sedangkan kliennya
merupakan tersangka. Adib Darmawan
merupakan penjahat, karena telah memperkosa anak kandung Sanggar
Padmanaba yaitu Tinuk. Tapi disini Sanggar Padmanaba telah membunuh Adib
Darmawan. Sehingga terjadi peralihan tokoh begitu cepat.
Bahasa yang digunakan Suparta
Brata begitu mengesankan. Masih ada sedikit selipan bahasa asing, bukan bahasa
Inggris melainkan bahasa Belanda. Biasanya penggunaan bahasa Belanda diselipkan
dalam percakapan antar tokoh.
Suparta Brata bisa membuat
pembacanya seolah-olah turun dalam cerita tersebut. Karena penggambaran
tokohnya begitu jelas. Dan juga penggambaran latar, waktu, dan situasi yang
begitu hidup.
Ketika menceritakan
tentang penjahat, maka seolah-olah pembaca benar-benar menjadi penjahat. Ketika
menceritakan tentang detektif maka seolah-olah pembaca benar-benar menjadi
detektif. Begitu juga ketika berada dalam suatu lokasi yang digambarkan.
Misalnya pengambaran tentang wisma Kalamangga yang begitu megah dan kuno.
Pembaca merasa seperti ada dalam wisma Kalamangga tersebut.
Lampiran Cerita
Judul Buku : Jaring Kalamangga (Novel Seri
Detektip Handaka)
Pengarang : Suparto Brata
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Cetakan : 1
Tahun : 2007
Halaman : 268 halaman
Biografi Pengarang :
Suparto Brata namanya sudah tercatat
di buku Five Thousand Personalities of
The World 1998 terbitan The American Biographical Institute, Raleight,
North Carolina 27622 USA.
Tahun 2007 dipilih menjadi salah
satu dari tiga sastrawan Indonesia yang mendapat penghargaan dari Menteri
Pendidikan Nasional Indonesia, dan dipilih menerima hadiah The S.E.A. Write Awards dari Kerajaan Thailand.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar