BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Masyarakat
Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, memiliki banyak suku, ras, budaya
serta kepercayaan. Hal-hal tersebut saling mempengaruhi dalam kehidupan
masyarakat seperti halnya sifat tradisi Indonesia penuh diliputi oleh mitos dan
upacara yang mempengaruhi dalam ajaran agama yang dipeluk oleh masyarakat.
Seperti
halnya di daerah Kabupaten Brebes, yang masih mempercayai dan melaksanakan
upacara tebus weteng. Dalam makalah ini
akan dibahas mengenai tebus weteng
atau kebuk atau biasa dikenal dengan mitoni.
Tebus weteng
atau kebuk atau biasa dikenal dengan mitoni adalah upacara yang merupakan
permohonan doa kepada Allah SWT untuk jabang bayi yang ada dalam perut ibu
karena saat itu telah di tentukan nasib jabang bayi di kemudian hari oleh Allah
SWT.
1.2
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan
masalahnya antara lain:
a. Apa
itu tebus weteng?
b. Bagaimana
tata cara upacara tebus weteng?
1.3
Tujuan
Adapun tujuannya antara
lain:
a. Mengetahui
tentang tebus weteng
b. Mengetahui
tata cara tebus weteng
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tradisi
Tebus Weteng
Tebus weteng
(berasal dari kata nebus = meminta
dan weteng = perut yang berarti
meminta agar yang ada dalam perut yaitu jabang bayi, diberi keselamatan dan
keberkahan) atau kebuk atau biasa
dikenal dengan mitoni adalah upacara
yang merupakan permohonan doa kepada Allah SWT untuk jabang bayi yang ada dalam
perut ibu karena saat itu telah di tentukan nasib jabang bayi di kemudian hari
oleh Allah SWT. Dengan di panjatkan doa oleh orang yang beriman di harapkan
jabang bayi diberi nasib baik agar bisa jadi manusia yang berguna bagi
keluarga, masyarakat, agama dan bangsa.
Dalam
upacara tebus weteng, di atas ambeng di tancapkan rangkaian daun
pisang yang berbentuk lingkaran dan dihiasi bunga melati sementara tengahnya
yang di tempeli kertas di beri gambar wayang janaka (atau wayang laki-laki) dan
wayang srikandi (atau wayang perempuan). Tujuannya agar doa yang di panjatkan
sampai ditujukan untuk jabang bayi dalam kandungan agar berwajah cantik atau
tampan.
Ambeng
adalah sajian bebarapa makanan untuk keperluan upacara syukuran dalam
masyarakat, yaitu sejumlah makanan berupa nasi putih atau nasi kuning yang di
tata bersama lauk pauk seperti telur asin makanan khas daerah Brebes, ikan
bandeng yang di acar atau daging, ikan asin, tahu, tempe, sayur-sayuran, dan
yang paling khas adalah kluban.
Kluban
adalah makanan tradisional yang lazim disediakan dalam upacara syukuran di
masyarakat brebes yang merupakan masyarakat agraris. Terbuat dari sayur-sayuran
yang justru sering tumbuh secara liar di sekitar lingkungan kami seperti
kangkung, daun turi, tronggong (bunga
turi), semanggen (semanggi) kadang di
campur pare yang diiris tipis-tipis. Sayuran tersebut di masak hingga matang
sementara parutan kelapa yang sudah diambil santannya dimasak dengan sedikit
air, garam, dan cabe untuk memberi rasa pedas. Disajikan dalam pincukan daun
pisang dan diberi timun dan beberapa potong kacang panjang mentah.
Tidak
kalah unik adalah dibuatnya rujak yang menjadi kekhasan upacara tebus weteng. Di buat dari beberapa
macam buah. Antara lain mangga muda, delima, jambu air, dan nanas. Semua bahan
di potong kecil-kecil dan di campur. Tak kalah unik adalah kedua orang tua
jabang bayi harus membeli masing-masing semangkok rujak dengan harga yang
semahal-mahalnya pada yang membuat rujak itu. Rujak termahal yang kami beli dan
tujuannya lebih unik yaitu biar jabang bayi nanti kalau besar bisa laku mahal.
Selain itu, jika rujak yang dibuat rasanya pedas maka jabang bayi akan lahir
laki-laki. Jika rujak yang dibuat rasanya biasa saja maka jabang bayi akan
lahir perempuan.
Segala
ubo rampe upacara 7 bulan di siapkan. Tetangga banyak datang membantu
menyediakan segala keperluan upacara berupa bahan makanan untuk syukuran dan berkat yang akan di bagikan bagi mereka
yang akan datang mendoakan keselamatan dan keberkahan yang di tujukan kepada
jabang bayi yang ada dalam perut sang ibu. Mereka juga membantu untuk memasak
dan membuat suatu keperluan upacara yang berisi beberapa makanan khas yang di
sediakan dalam ambeng.
B.
Tata
Cara Tebus Weteng
Acara
diadakan pada tanggal yang ganjil, namun tidak boleh lewat dari tanggal 15
yaitu pada tanggal 3,5,7,9,11,13,15.
Acara
syukuran biasanya dilakukan ba’da Isya, satu persatu undangan datang, dan acara segera mulai. Upacara ini di pimpin
oleh salah satu alim ulama di desa tersebut, dan pemimpin doa oleh bapak Lebai. Dan dipanjatkan doa-doa dengan hikmat yang diikuti oleh
tetangga dan undangan yang hadir. Ulama akan memberikan sedikit penjelasan
untuk apa perlunya digelar upacara 7
bulanan. Yaitu permohonan agar nasib yang di tentukan pada jabang bayi saat itu
mandapatkan segala kebaikan. Di jelaskan pada usia 4 bulan telah ditiupkan roh
dalam diri jabang bayi dan usia 7 bulan di tentukan nasib jabang bayi dikemudian
hari. Pada saat di tentukan nasib kemudian hari jabang bayi ada baiknya di
panjatkan doa agar dikaruniai nasib baik selama di dunia dan akherat.
Sementara
doa-doa dipanjatkan ibu jabang bayi dimandikan oleh dukun bayi yang nantinya
setelah melahirkan juga akan mengurus jabang bayi tersebut dan ibunya selama 1
bulan penuh, yaitu memandikan jabang bayi dan mengurut ibu jabang bayi.
Prosesi
pemandian biasanya dilakukan di suatu tempat yang sudah disediakan atau cukup
di kamar mandi saja. Ibu jabang bayi dimandikan dalam posisi duduk. Ibu jabang
bayi dimandikan dengan air yang sudah diberi doa oleh alim ulama atau tetua
desa. Saat memandikan, dukun bayi membacakan mantra. Setelah dimandikan, ibu
jabang bayi melakukan prosesi membuat rujak.
Contoh Mantra:
1. Pun ampun ka Sang Rumuhun
amit
ka nu gaduh lembur
maap sakur
anu aya
punten ka
juraganana
2. Astagfirullahaladim
baju numpang
hudang rasa
nu bakal
jadi cahaya
cahaya bakal
manusa
3. Manusa nu bade lahir
aya dina
panitisan
nitis dina
gaib heula
samemeh
nitis ka rama
4. Nelah kasebat datullah
ngaliah
nitis ka sang rama
salin
ngancik salin asma
nur lenggang
putih kancana
Dan
seterusnya, masih panjang lagi.
C.
Analisis
Tebus weteng
adalah suatu adat Jawa yang dijalankan secara turun menurun. iraman dari
kata siram artinya mandi.Tebus weteng
mempunyai tujuan untuk mensucikan lahir batin tidak hanya bagi calon ibu tetapi
juga bayi dalam kandungan,selain itu mitoni dilangsungkan agar bayi dalam
kandungan lahir dengan sehat.
Upacara tebus weteng merupakan
upacara yang baik dilaksanakan dan juga patut dilestarikan. Selain itu dengan
adanya doa-doa yang dipanjatkan maka akan semakin mendekatkan diri kepada
Tuhan. Adanya upacara ini memanggil seluruh warga adalah supaya tali
silaturahmi antar warga tetap terjaga dengan baik.
Adanya
bermacam sayur-sayuran yang dibuat dalam kluban
berlambang kesederhanaan dan rasa persatuan dan gotong royong yang masih kental
dalam masyarakat desa yang sebagian
besar berprofesi sebagai petani. Banyak macam sayuran dan jajanan yang
disajikan melambangkan beragam kebiasaan masyarakat yang tetap bergotong
royong.
Apabila tidak
dilakukan dikhawatirkan akan membawa petaka bagi calon ibu dan jabang bayi,
karena tujuan dari upacara tebus weteng
ini adalah untuk menghindari petaka. Apalagi upacara ini sudah dilangsungkan
oleh masyarakat suku Jawa secara turun menurun tentunya apabila tidak dilakukan
sama saja dengan tidak mengakui budaya sendiri, dan tidak menghayati
kepercayaan kepercayaan leluhur. Hal ini akan berdampak buruk bagi mereka yang
mengabaikannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tebus weteng
atau kebuk atau biasa dikenal dengan mitoni adalah upacara yang merupakan
permohonan doa kepada Allah SWT untuk jabang bayi yang ada dalam perut ibu
karena saat itu telah di tentukan nasib jabang bayi di kemudian hari oleh Allah
SWT. Dan agar selalu diberi keselamatan bagi jabang bayi dan ibunya. Dalam
acara ini disediakan berbagai makanan dan jajanan khas daerah Brebes. Acara
tebus weteng dilaksanakan saat bayi dalam kandungan berumur 7 bulan.
Saran
Tebus
weteng pada dasarnya harus selalu dijaga dan dilestarikan.
Khususnya bagi para generasi muda, agar tradisi ini tidak akan hilang oleh
adanya modernisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim . “Mitoni,
Satu Peristiwa Seribu Makna” (http://debritto.net/isi/mitoni_satu_peristiwa_seribu_makna/
diakses
pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.21)
Anonim . “Upacara
Mitoni Pada Adat Jawa”
(http://liberty-rhosa.blogspot.com/2009/12/upacara-mitoni-pada-adat-jawa.html/
diakses pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.25)
Anonim . “Artikel
Budaya Jawa: Mitoni, Ritual Penuh Doa” (http://www.anneahira.com/artikel-budaya-jawa.htm/
diakses pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.29)
Anonim . “Upacara
7 bulan kehamilan Bunda Feren (Kebuk)” (http://bundaferen.blogspot.com/
diakses pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.34)
Anonim . “Nebus
Weteng”
(http://putrapecilon.blogspot.com/2010/01/nebus-weteng.html/ diakses pada tanggal 25
Desember 2011 pukul 13.11)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar