Goleti

Kamis, 19 April 2012

Tebus Weteng (Mitoni) Daerah Brebes


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, memiliki banyak suku, ras, budaya serta kepercayaan. Hal-hal tersebut saling mempengaruhi dalam kehidupan masyarakat seperti halnya sifat tradisi Indonesia penuh diliputi oleh mitos dan upacara yang mempengaruhi dalam ajaran agama yang dipeluk oleh masyarakat.
Seperti halnya di daerah Kabupaten Brebes, yang masih mempercayai dan melaksanakan upacara tebus weteng. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai tebus weteng atau kebuk atau biasa dikenal dengan mitoni.
Tebus weteng atau kebuk atau biasa dikenal dengan mitoni adalah upacara yang merupakan permohonan doa kepada Allah SWT untuk jabang bayi yang ada dalam perut ibu karena saat itu telah di tentukan nasib jabang bayi di kemudian hari oleh Allah SWT.

1.2         Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalahnya antara lain:
a.       Apa itu tebus weteng?
b.      Bagaimana tata cara upacara tebus weteng?

1.3         Tujuan

Adapun tujuannya antara lain:
a.       Mengetahui tentang tebus weteng
b.      Mengetahui tata cara tebus weteng



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tradisi Tebus Weteng

Tebus weteng (berasal dari kata nebus = meminta dan weteng = perut yang berarti meminta agar yang ada dalam perut yaitu jabang bayi, diberi keselamatan dan keberkahan) atau kebuk atau biasa dikenal dengan mitoni adalah upacara yang merupakan permohonan doa kepada Allah SWT untuk jabang bayi yang ada dalam perut ibu karena saat itu telah di tentukan nasib jabang bayi di kemudian hari oleh Allah SWT. Dengan di panjatkan doa oleh orang yang beriman di harapkan jabang bayi diberi nasib baik agar bisa jadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, agama dan bangsa.
Dalam upacara tebus weteng, di atas ambeng di tancapkan rangkaian daun pisang yang berbentuk lingkaran dan dihiasi bunga melati sementara tengahnya yang di tempeli kertas di beri gambar wayang janaka (atau wayang laki-laki) dan wayang srikandi (atau wayang perempuan). Tujuannya agar doa yang di panjatkan sampai ditujukan untuk jabang bayi dalam kandungan agar berwajah cantik atau tampan.
Ambeng adalah sajian bebarapa makanan untuk keperluan upacara syukuran dalam masyarakat, yaitu sejumlah makanan berupa nasi putih atau nasi kuning yang di tata bersama lauk pauk seperti telur asin makanan khas daerah Brebes, ikan bandeng yang di acar atau daging, ikan asin, tahu, tempe, sayur-sayuran, dan yang paling khas adalah kluban.
Kluban adalah makanan tradisional yang lazim disediakan dalam upacara syukuran di masyarakat brebes yang merupakan masyarakat agraris. Terbuat dari sayur-sayuran yang justru sering tumbuh secara liar di sekitar lingkungan kami seperti kangkung, daun turi, tronggong (bunga turi), semanggen (semanggi) kadang di campur pare yang diiris tipis-tipis. Sayuran tersebut di masak hingga matang sementara parutan kelapa yang sudah diambil santannya dimasak dengan sedikit air, garam, dan cabe untuk memberi rasa pedas. Disajikan dalam pincukan daun pisang dan diberi timun dan beberapa potong kacang panjang mentah.
Tidak kalah unik adalah dibuatnya rujak yang menjadi kekhasan upacara tebus weteng. Di buat dari beberapa macam buah. Antara lain mangga muda, delima, jambu air, dan nanas. Semua bahan di potong kecil-kecil dan di campur. Tak kalah unik adalah kedua orang tua jabang bayi harus membeli masing-masing semangkok rujak dengan harga yang semahal-mahalnya pada yang membuat rujak itu. Rujak termahal yang kami beli dan tujuannya lebih unik yaitu biar jabang bayi nanti kalau besar bisa laku mahal. Selain itu, jika rujak yang dibuat  rasanya pedas maka jabang bayi akan lahir laki-laki. Jika rujak yang dibuat rasanya biasa saja maka jabang bayi akan lahir perempuan.
Segala ubo rampe upacara 7 bulan di siapkan. Tetangga banyak datang membantu menyediakan segala keperluan upacara berupa bahan makanan untuk syukuran dan berkat yang akan di bagikan bagi mereka yang akan datang mendoakan keselamatan dan keberkahan yang di tujukan kepada jabang bayi yang ada dalam perut sang ibu. Mereka juga membantu untuk memasak dan membuat suatu keperluan upacara yang berisi beberapa makanan khas yang di sediakan dalam ambeng.

B.     Tata Cara Tebus Weteng

Acara diadakan pada tanggal yang ganjil, namun tidak boleh lewat dari tanggal 15 yaitu pada tanggal 3,5,7,9,11,13,15.
Acara syukuran biasanya dilakukan ba’da Isya, satu persatu undangan datang,  dan acara segera mulai. Upacara ini di pimpin oleh salah satu alim ulama di desa tersebut, dan pemimpin  doa oleh bapak Lebai. Dan dipanjatkan doa-doa dengan hikmat yang diikuti oleh tetangga dan undangan yang hadir. Ulama akan memberikan sedikit penjelasan untuk  apa perlunya digelar upacara 7 bulanan. Yaitu permohonan agar nasib yang di tentukan pada jabang bayi saat itu mandapatkan segala kebaikan. Di jelaskan pada usia 4 bulan telah ditiupkan roh dalam diri jabang bayi dan usia 7 bulan di tentukan nasib jabang bayi dikemudian hari. Pada saat di tentukan nasib kemudian hari jabang bayi ada baiknya di panjatkan doa agar dikaruniai nasib baik selama di dunia dan akherat.
Sementara doa-doa dipanjatkan ibu jabang bayi dimandikan oleh dukun bayi yang nantinya setelah melahirkan juga akan mengurus jabang bayi tersebut dan ibunya selama 1 bulan penuh, yaitu memandikan jabang bayi dan mengurut ibu jabang bayi.
Prosesi pemandian biasanya dilakukan di suatu tempat yang sudah disediakan atau cukup di kamar mandi saja. Ibu jabang bayi dimandikan dalam posisi duduk. Ibu jabang bayi dimandikan dengan air yang sudah diberi doa oleh alim ulama atau tetua desa. Saat memandikan, dukun bayi membacakan mantra. Setelah dimandikan, ibu jabang bayi melakukan prosesi membuat rujak.

Contoh Mantra:
1.  Pun ampun ka Sang Rumuhun
amit  ka nu gaduh lembur
maap sakur anu aya
punten ka juraganana

2.  Astagfirullahaladim
baju numpang hudang rasa
nu bakal jadi cahaya
cahaya bakal manusa

3.  Manusa nu bade lahir
aya dina panitisan
nitis dina gaib heula
samemeh nitis ka rama

4.  Nelah kasebat datullah
ngaliah nitis ka sang rama
salin ngancik salin asma
nur lenggang putih kancana

Dan seterusnya, masih panjang lagi.



C.      Analisis

Tebus weteng adalah suatu adat Jawa yang dijalankan secara turun menurun. iraman dari kata siram artinya mandi.Tebus weteng mempunyai tujuan untuk mensucikan lahir batin tidak hanya bagi calon ibu tetapi juga bayi dalam kandungan,selain itu mitoni dilangsungkan agar bayi dalam kandungan lahir dengan sehat.
Upacara tebus weteng merupakan upacara yang baik dilaksanakan dan juga patut dilestarikan. Selain itu dengan adanya doa-doa yang dipanjatkan maka akan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Adanya upacara ini memanggil seluruh warga adalah supaya tali silaturahmi antar warga tetap terjaga dengan baik.
Adanya bermacam sayur-sayuran yang dibuat dalam kluban berlambang kesederhanaan dan rasa persatuan dan gotong royong yang masih kental dalam masyarakat desa  yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Banyak macam sayuran dan jajanan yang disajikan melambangkan beragam kebiasaan masyarakat yang tetap bergotong royong.
Apabila tidak dilakukan dikhawatirkan akan membawa petaka bagi calon ibu dan jabang bayi, karena tujuan dari upacara tebus weteng ini adalah untuk menghindari petaka. Apalagi upacara ini sudah dilangsungkan oleh masyarakat suku Jawa secara turun menurun tentunya apabila tidak dilakukan sama saja dengan tidak mengakui budaya sendiri, dan tidak menghayati kepercayaan kepercayaan leluhur. Hal ini akan berdampak buruk bagi mereka yang mengabaikannya.






BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Tebus weteng atau kebuk atau biasa dikenal dengan mitoni adalah upacara yang merupakan permohonan doa kepada Allah SWT untuk jabang bayi yang ada dalam perut ibu karena saat itu telah di tentukan nasib jabang bayi di kemudian hari oleh Allah SWT. Dan agar selalu diberi keselamatan bagi jabang bayi dan ibunya. Dalam acara ini disediakan berbagai makanan dan jajanan khas daerah Brebes. Acara tebus weteng dilaksanakan saat bayi dalam kandungan berumur 7 bulan.

Saran
Tebus weteng pada dasarnya harus selalu dijaga dan dilestarikan. Khususnya bagi para generasi muda, agar tradisi ini tidak akan hilang oleh adanya modernisasi.














DAFTAR PUSTAKA


Anonim           .           “Mitoni, Satu Peristiwa Seribu Makna” (http://debritto.net/isi/mitoni_satu_peristiwa_seribu_makna/ diakses pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.21)

Anonim           .           “Upacara Mitoni Pada Adat Jawa”
(http://liberty-rhosa.blogspot.com/2009/12/upacara-mitoni-pada-adat-jawa.html/ diakses pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.25)

Anonim           .           “Artikel Budaya Jawa: Mitoni, Ritual Penuh Doa” (http://www.anneahira.com/artikel-budaya-jawa.htm/ diakses pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.29)

Anonim           .           “Upacara 7 bulan kehamilan Bunda Feren (Kebuk)” (http://bundaferen.blogspot.com/ diakses pada tanggal 19 November 2011 pukul 16.34)

Anonim           .           “Nebus Weteng”
            (http://putrapecilon.blogspot.com/2010/01/nebus-weteng.html/ diakses pada tanggal 25 Desember 2011 pukul 13.11)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar